
TARGET.ID – Nama konglomerat Garibaldi Thohir, atau sering disebut Boy Thohir, menarik perhatian ketika ia memborong saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) di tengah kondisi anjloknya bursa saham di Indonesia.
Boy Thohir adalah pengusaha terkaya Indonesia di urutan ke-17 berdasarkan daftar Forbes 2024. Harta kekayaannya saat itu mencapai 3,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 61,5 triliun.
Ia berdarah Lampung. Lahirnya pun di Bandar Lampung.
Ayahnya, Mochammad Teddy Thohir, berasal dari Lampung Tengah. Ibunya bernama Edna Thohir.
Boy Thohir adalah kakak pengusaha yang juga Menteri BUMN dan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.
Boy Thohir membeli saham Adaro secara pribadi dan melalui perusahaan keluarganya, PT Trinugraha Thohir atau TNT. Ia membeli sebanyak 7,3 juta saham AADI.
Merujuk keterbukaan informasi yang rilis di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (19/3), Direktur Utama Adaro Andalan Indonesia Julius Aslan dan Direktur Adaro Andalan Indonesia Susanti melaporkan bahwa Boy Thohir melakukan pembelian sebanyak 3.651.000 saham (3,65 juta saham) AADI.
Transaksi dilakukan sebanyak sembilan kali pada perdagangan Rabu (19/3) ini.
Pembelian dilakukan pada rentang harga Rp 6.625 hingga Rp 6.900 per saham. Pembelian ini dilakukan untuk tujuan investasi dengan status kepemilikan langsung.
Dengan aksi ini, kepemilikan Boy Thohir pada AADI bertambah dari semula 450,36 juta saham (5,78 persen) menjadi 454,01 juta saham (5,83 persen).
Siapa Garibaldi Thohir
Garibaldi Thohir BBA MBA seorang pengusaha tambang batu bara di bawah bendera PT Alamtri Resources Indonesia Tbk atau biasa dikenal dengan Adaro Energy.
Pria yang juga akrab disapa Boy Thohir itu menjabat sebagai Presiden Direktur di perusahaan tersebut.
Dikutip dari Wikipedia, Garibaldi Thohir atau Boy Thohir lahir di Bandar Lampung pada 1 Mei 1965.
Ia merupakan putra dari pasangan Mochammad Teddy Thohir dan Edna Thohir.
Boy Thohir merupakan kakak dari Erick Thohir, Menteri Badan Usaha Miliki Negara periode 2024 hingga 2029, yang juga sekaligus Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Ia diketahui pernah mengenyam pendidikan di University of Southern California, Amerika Serikat dan berhasil meraih gelar Sarjana Administrasi Bisnis tahun 1988.
Kemudian melanjutkan studi S2 di Northrop University, Amerika Serikat, dan berhasil menyandang gelar Magister Administrasi Bisnis pada 1989.
Ia mengawali karier dengan bergabung bersama Astra yang saat itu dipimpin oleh ayahnya.
Setelah merasa cukup belajar di Astra, ia mencoba peruntungannya dengan mendirikan perusahaan properti dengan membangun aparteman di kawasan Casablanca, Jakarta.
Tetapi usaha ini tidak berjalan dengan mulus dan masalah pembebasan lahan menjadi kendala utama. Akhirnya perusahaan ini dijual ke ayahnya.
Pada tahun 1992, ia bergabung dengan perusahaan tambang di Sawah Lunto, Sumatera Barat yaitu PT Allied Indo Coal.
Tahun 1997, ia juga memulai bisnisnya di bidang keuangan dengan mengakusisi perusahaan multi finansial PT Wahana Ottomitra Multiartha (WOM Finance).
Perusahaan ini bergerak dalam bidang penyedia pembiayaan publik khusunya pembelian sepeda motor Honda.
Pada tahun 2005, bersama Theodore Permadi Rachmat, Edwin Soeryadjaya, Sandiaga Uno, dan Benny Soebianto, ia membentuk konsorsium baru membeli saham Adaro Energy dari New Hope, perusahaan asal Australia.
Ini menjadi titik balik dari bisnisnya, ia berhasil menjadikan Adaro Energy sebagai perusahaan terbesar kedua di Indonesia setelah PT Kaltim Prima Coal, dan salah satu produsen batubara terbesar kelima di dunia.
Pada tahun 2008, Adaro Energy melakukan penjualan saham perdana ke publik (initial public offering/IPO).
Adaro mengusung produk batubara dengan brand Envirocoal, batubara yang ditambang dengan konsep ramah lingkungan.
Pada akhir tahun 2011, Forbes menempatkan Adaro sebagai satu dari 50 Perusahaan Terbaik di Asia.
Pada 30 Mei 2013 dengan tujuan memperkuat investasinya, Garibaldi Thohir memborong saham perusahaan yang dipimpinnya sendiri.
Di Adaro Energy, Boy Thohir menjabat sebagai Presiden Direktur.
Kemudian, ia pernah ditunjuk menjadi komisaris PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2015, menggantikan Dwi Soetjipto.
Tak sampai di situ, kakak dari Erick Thohir itu juga pernah didapuk sebagai Komisaris Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk pada tahun 2020 hingga 2023.***