
TARGET.ID – Jumlah kunjungan wisatawan ke Lampung diprediksi akan meledak hingga di atas 20 juta orang pada 2025 ini.
Prediksi itu mengacu pada tren kenaikan jumlah kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun sejak masa Covid hingga pasca-Covid.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung menunjukkan, pada 2019 pariwisata Lampung sebenarnya sudah menggeliat dengan capaian 17.022.530 wisatawan.
Namun, sejak masa Covid, jumlah kunjungan wisatawan anjlok, lalu perlahan mulai rebound dari tahun ke tahun.
Hingga kembali ke puncaknya pada 2024 ini dengan capaian 17.875.613 wisatawan.
Data Kunjungan Wistawan
2019: 17.022.530
2020: 8.525.722
2021: 9.176.866
2022: 10.925.704
2023: 13.760.697
2024: 17.875.613
*Sumber: BPS Lampung
Ironi Tempat Wisata lama
Di tengah ekspektasi tinggi bakal melonjaknya kunjungan wisatawan ke Lampung, yang menjadi ironi adalah banyak tempat yang menjadi destinasi wisata perlahan meredup ditinggalkan pengunjung.
Beberapa tempat wisata yang dulu sangat hype, terutama pada masa-masa 2018 hingga 2019, sejak dua tahun terakhir mulai redup. Tidak sampai padam, tapi nyala apinya semakin kecil.
Ketika geliat pariwisata mulai mengalami rebound pasca-Covid, tempat wisata tersebut cenderung stagnan bahkan menurun.
Tingkat Persaingan
Diketahui bahwa salah satu faktor menurunnya kunjungan ke suatu tempat wisata adalah karena tingkat persaingan semakin tinggi.
Di Lampung dalam dua tahun terakhir bermunculan banyak tempat wisata baru yang lebih variatif, bahkan lebih inovatif.
Sementara tempat wisata lama cenderung jalan di tempat dengan tidak melakukan pembaruan. Beberapa bahkan bermasalah dengan pemeliharaan.
Kreativitas Pengelola
Kecenderungan wisatawan adalah mendapatkan pengalaman baru dan ingin mendapatkan sesuatu yang unik. Dan, itu diperoleh dari tempat wisata baru yang memang jauh lebih agresif.
Sedangkan banyak tempat wisata yang merupakan pemain lama hanya mengandalkan wahana dan fasilitas yang juga lama.
Akibatnya, wisatawan akan berpikir untuk loyal. Dua-tiga kali kunjungan, setelah itu cari tempat lain.
Trend Media Sosial
Hal ini terkait juga dengan trend penggunaan media sosial yang sangat erat kaitannya dengan spot-spot yang instagramable.
Foto dan video yang menarik adalah kebutuhan wajib para wisatawan. Mereka akan selalu mencari objek baru, bukan yang hanya itu-itu saja, itu lagi-itu lagi.
Promosi yang Terbatas
Promosi merupakan salah satu tools untuk mendongkrak penjualan. Sayangnya, beberapa tempat wisata tidak melakukan promosi yang efektif. Kalaupun melakukan promosi, tidak tepat sasaran.
Promosi di media sosial sudah menjadi trend pemasaran. Mengetahui dan memahami teknik dan strategi promosi merupakan keniscayaan bagi pengelola tempat wisata.
Tempat wisata yang berhasil viral di media sosial berbanding lurus dengan jumlah kunjungannya. Semakin viral, semakin dikenal, semakin banyak yang berkunjung.
Akses yang Buruk
Tak dapat dipungkiri, satu di antara kelemahan pariwisata Lampung adalah akses jalan yang belum memadai.
Banyak tempat wisata yang akses jalannya sulit, untuk tidak mengatakan buruk.
Tanpa perlu menyebut nama, jalan menuju ke tempat wisata tersebut mulai berlubang, bahkan ada yang sangat dalam.
Tempat wisata yang tidak berupaya untuk membuka akses jalan yang lebih baik akan ditinggalkan oleh pengunjungnya.
Meski sejatinya keterlibatan pemerintah dalam hal akses jalan ini menjadi keniscayaan, namun akan menjadi semakin sulit jika pengelola tempat wisata tidak mengambil inisiatif.
Contoh Sukses
Tanpa bermaksud berpromosi, satu di antara cerita sukses adalah Ramayana Ciplaz Lampung di Jalan ZA Pagar Alam.
Ramayana Ciplaz berhasil melakukan transformasi dari sekedar tempat belanja dengan diskon tanda tanya, menjadi tempat wisata, bahkan tempat kuliner.
Pada 2014, Ramayana sudah sangat redup. Namun, seiring perjalanan waktu, terutama pasca-Covid, mereka melakukan banyak perubahan, bahkan melakukan inovasi.
Beberapa bagian direnovasi menjadi tempat kuliner. Lalu, menghadirkan tempat wisata melalui sejumlah wahana baru yang relatif baru di Lampung dan sedang menjadi trend di daerah lain.
Ketika wahana rainbow slide atau perosotan pelangi sedang viral, Ramayana Ciplaz cepat menangkap peluang dengan menghadirkannya di bagian belakang plaza.
Ciplaz juga pernah menghadirkan Kamar 13, wahana permainan hantu yang menyedot banyak perhatian, terutama dari kalangan remaja dan anak-anak.
Belakangan, Ciplaz menghadirkan wahana Milkyverse, yaitu wahana bertema luar angkasa.
Kemudian, Dino and Friends, yaitu wahana bermain bertema dinosaurus yang edukatif.
Kreasi dan inovasi yang dihadirkan pengelola Ciplaz Lampung berdampak nyata.
Bus-bus besar dari berbagai daerah, bahkan dari provinsi lain, berderet panjang di sekitar plaza. Bukan hanya pada momen libur panjang, tapi juga pada momen weekend rutin.
Pemandangan itu dulu kita lihat di sejumlah tempat wisata. Yang sayangnya karena minim kreasi dan inovasi, kini mulai redup.***